Lewati ke konten
Kembali ke Beranda

Shadows of Forgetten Ancestors

29 sesi · 853 menit · hal. 1–565

YD PutraPomodoroUtas · 29 bagian

Membaca Shadows of Forgetten Ancestors 25 menit · hal. 1–15 Saya suka kalimat ini dari penulis, "kami harap seandainya kami gagal, orang lain akan terprovikasi untuk melakukannya dengan baik." Kata pengantar yang bagus.

Lanjutan utas · 2/29

55 menit · hal. 16–44 Di bab ini kita disuguhkan fakta sejarah alam semesta khususnya penciptaan bumi dari bintang dan benda-benda luar angkasa hingga menjadi bumi yang kita huni saat ini. Semua dijelaskan secara sains.

Lanjutan utas · 3/29

25 menit · hal. 45–67 Di BAB 3 "Apakah yang Kau Buat" ini menceritakan siapa Darwin. Mulai dari orang tua, hobi, pasangan, dan karyanya. Sepertinya Darwin ini memang dianggap sebagai "nabi" di dunia naturalis.

Lanjutan utas · 4/29

53 menit · hal. 68–96 BAB 4 Doktrin Debu ini Darwin dengan teorinya diserang oleh banyak pihak termasuk oleh gereja. Meski begitu, saat Darwin meninggal gereja meminta jasad Darwin untuk sepemakaman dengan Newton sebagai bentuk penghormatan. Respect

Lanjutan utas · 5/29

25 menit · hal. 97–110 BAB 5: Hidup Adalah Kata Berhuruf Tiga. Sederhana setiap individu mempunyai rangkaian huruf penyusunnya yaitu A, C, G dan T. Susunan huruf bisa sangat panjang hingga miliaran dan kita bisa membacanya per 3 huruf. Rumit ya?

Lanjutan utas · 6/29

25 menit · hal. 111–125 Ada yang menarik dari evolusi. Bahwa evolusi memanfaatkan ketidaksempurnaan dalam pembuatan salinan DNA sehingga makhluk di bumi bisa bermacam-macam. Selain itu, evolusi tidak mempunyai rencana atau arah.

Lanjutan utas · 7/29

63 menit · hal. 126–155 BAB 6: KITA DAN MEREKA. Pada dasarnya kita dan makhluk hidup apapun di muka bumi ini mempunyai dari susunan DNA dan cara kerja yang sama. Bisa dibilang, kita semua berkerabat—bahkan dengan bawang sekali pun.

Lanjutan utas · 8/29

25 menit · hal. 156–171 BAB 7: TATKALA API BARU BERKOBAR. Fakta, sebelum manusia memanfaatkan api ternyata tumbuhan telah melakukannya lebih dulu. Contohnya pohon pinus di mana bijinya justru menunggu api untuk terbuka sementara vegetasi lain hangus

Lanjutan utas · 9/29

25 menit · hal. 172–186 Semua kehidupan di planet ini terbuat dari bahan organik yang hampir sama, molekul dengan fungsi yang sama, dan kode genetik yang sama. Kita semua tidak hanya berkerabat, tetapi seperti satu mesin yang saling memengaruhi.

Lanjutan utas · 10/29

25 menit · hal. 187–198 BAB 8: SEKS DAN KEMATIAN. Kenapa sebagian besar makhluk hidup melakukan seks padahal biayanya mahal seperti harus berpenampilan menarik, kuat, dan siap mati. Jawabannya adalah untuk "mengacak" kode DNA agar tetap survive.

Lanjutan utas · 11/29

45 menit · hal. 199–228 BAB 9: PEMISAH TIPIS MACAM APA Descartes menyebut hewan robot. Faktanya, mereka punya kesadaran dan rasa sakit, seperti kita. Saya curiga: apakah label 'robot' sengaja dipakai agar manusia tega membantai & menyiksa mereka?

Lanjutan utas · 12/29

25 menit · hal. 229–244 BAB 10: OBAT SEBELUM YANG TERAKGIR Apa obat dari kekacauan, perang, kelaparan, dan kepunahan? Jawabannya adalah politik. Politik lahir dari evolusi pada spesies yang bersosial: primata, serigala, singa, bahkan semut.

Lanjutan utas · 13/29

25 menit · hal. 245–258 BAB 10: OBAT SEBELUM YANG TERAKHIR. Setiap hewan, termasuk Sapiens, memiliki rekaman DNA Fight or Flight sebagai tombol otomatis untuk bertahan dari mara bahaya seperti kekacauan, konflik, dan kepunahan.

Lanjutan utas · 14/29

25 menit · hal. 259–272 BAB 11: YANG BERKUASA DAN YANG TUNDUK BAB ini menarik sekali. Ternyata dominasi dan submisif/tunduk lahir dari gen yang ada pada setiap individu. Hierarki gen terdiri dari alfa, beta, gamma, delta, zeta, eta dst.

Lanjutan utas · 15/29

25 menit · hal. 273–286 [REVISI] BAB 11: YANG BERKUASA DAN YANG TUNDUK Sagan & Druyan menyajikan hipotesis berbasis genetika tetapi sains modern menegaskan bahwa alfa tidak mutlak lahir dari gen saja tetapi juga dari lingkungan, situasi & belajar.

Lanjutan utas · 16/29

25 menit · hal. 287–300 BAB 12: PEMERKOSAAN TERHADAP KAINIS Testosteron membantu individu khususnya pejantan untuk kawin, bersaing, dan menguasai kawasan. Tak mengherankan jika pejantan dikebiri maka akan kehilangan kemampuan tersebut.

Lanjutan utas · 17/29

25 menit · hal. 301–316

Lanjutan utas · 18/29

25 menit · hal. 317–336

Lanjutan utas · 19/29

25 menit · hal. 337–349

Lanjutan utas · 20/29

25 menit · hal. 350–366 Kekejaman, perang, dan perdamaian yang dilakukan oleh manusia juga dilakukan oleh kerabat terdekat kita yakni simpanse. Ini mengindikasikan bahwa nenek moyang bersama mewariskan evolusi biologis tersebut kepada semua primata.

Lanjutan utas · 21/29

25 menit · hal. 367–380

Lanjutan utas · 22/29

25 menit · hal. 381–394 BAB 16: KEHIDUPAN KERA Ternyata evolusi perilaku simpanse dan Sapiens dalam ranah politik, teritorial, dan sumber daya sangat mirip. Di dunia politik, politik kita saat ini adalah politik simpanse bedanya kita bekerja di ruang ber-AC dilengkapi dokumen hukum.

Lanjutan utas · 23/29

25 menit · hal. 395–409

Lanjutan utas · 24/29

25 menit · hal. 410–428 BAB 16 KEHIDUPAN KERA Secara keseluruhan, BAB ini membuat saya mengerti bahwa jarak antara kita dan kera besar lain—simpanse dan bonobo—tidak sejauh yang sering kita bayangkan. Kita dengan mereka mempunyai kemiripan DNA hingga 99,6%—menurut buku ini— dan ini menunjukkan bahwa kita dan mereka berasal dari nenek moyang yang sama—sekitar 6–8 juta tahun yang lalu. Karena kita berbagi warisan genetik dengan mereka maka tidak mengherankan jika kita dan mereka mempunyai hierarki, teritorialitas, koalisi, kerja sama, bahkan kekejaman dengan kecenderungan yang sama. Perbedaan kita dengan sepupu kita tersebut ada pada kemampuan berbahasa simbolik dan mengembangkan budaya secara kumulatif. Melalui kemampuan berbahasa dan berbudaya, kita dapat membuat hukum, etika, dan institusi. Tanpa kedua kemampuan itu, kita mungkin tidak akan jauh berbeda dari mereka.

Lanjutan utas · 25/29

30 menit · hal. 429–447 Berkat leluhur purba yang sama antara homo sapiens, simpanse, bonobo bahkan makaka hingga babun, kita menyadari satu hal bahwa setiap dari spesies ini mendapatkan "warisan ilmu" yang sama, hanya implementasinya saja yang berbeda-beda akibat jalur evolusi. Kita bisa berbahasa, simpanse dan bonobo pun bisa. Kita bisa berinovasi, makaka dan babun pun bisa. Kita bisa berpolitik, nyaris semua kera dan monyet pun bisa. Ternyata kita tidak sebegitu istimewa di alam semesta ini. Kita hanya "kebetulan saja" berada di posisi saat ini dan seharusnya berlaku bijak dan bertanggung jawab kepada kerabat-kerabat kita dan juga makhluk hidup lainnya. NB: Saya sengaja menyederhanakan beberapa diksi seperti, "berbahasa", "berinovasi", "tidak sebegitu istimewa", "kebetulan saja", dan mungkin diksi lain untuk memudahkan kita menangkap pesan besarnya tanpa menghilangkan betapa rumitnya arti sesungguhnya.

Lanjutan utas · 26/29

30 menit · hal. 448–470

Lanjutan utas · 27/29

30 menit · hal. 471–489 BAB 19 APA ITU MANUSIA Secara sains, manusia tidak terlalu ada bedanya dengan hewan lain khususnya di keluarga primata. Baik simpanse atau bonobo sama-sama bisa berbahasa, berbudaya, berpolitik, berinovasi, bahkan memikirkan sesuatu yang belum ada. Manusia kerap kali membentengi diri untuk tidak setara dengan sepupunya—simpanse dan bonobo—padahal secara sains sama saja.

Lanjutan utas · 28/29

30 menit · hal. 490–508 BAB 20: HEWAN DALAM DIRI Di dalam DNA dan otak kita sampai saat ini terdapat bagian-bagian kebinatangan bahkan kita berbagi genetik dengan simpanse sampai dengan 98% dan kita masih mempunyai insting di dalam otak seperti hewan pada umumnya. Suka tidak suka, kita (sapiens) adalah bagian dari evolusi panjang di dalam dunia binatang. Mengetahui dan menerima dari mana kita berasal justru dapat membuat kita jadi bijak dengan menciptakan fiksi bersama seperti hukum, etika, dan norma untuk mencegah sifat atau perilaku kebinatangan.

Lanjutan utas · 29/29

17 menit · hal. 509–565 BAB 21: BAYANG-BAYANG LELUHUR YANG TERLUPA BAB ini adalah kesimpulan dengan refleksi yang dalam. Dengan mengetahui asal usul manusia baik secara biologi atau leluhur kita mempunyai kewaskitaan diri dan kecerdasan untuk menyelamatkan umat manusia serta seluruh kehidupan di bumi dari kepunahan. Kita mempunyai tombol nuklir untuk memusnahkan kehidupan dan kita juga mempunyai pengetahuan untuk mencegah itu. Apakah kita mau lepaskan diri dari bayang-bayang leluhur seperti tribalism, agresi, dan sektarian lalu menjemput kelestarian bersama?

Komentar

Memuat komentar...

Ketik @ untuk mention pengguna atau perpustakaan. Mention valid akan tampil biru.